Latest Blogs

Bullying atau kekerasan pada anak sekarang menjadi persoalan serius dalam dunia pendidikan dan pergaulan anak-anak serta remaja. Sejumlah kasus di beberapa sekolah dasar terutama yang baru terjadi di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, mencuatkan lagi persoalan ini.

Sayangnya, meski sudah terjadi berulang kali tapi seperti tak ada solusi tuntas. Orang tua, sekolah, lingkungan apalagi negara seperti abai. Terlihat dari semakin tingginya kasus kekerasan pada anak dengan pelaku anak. Padahal dampak dari bullying ini dapat berkepanjangan. Apalagi bila dilakukan secara sistematis misal oleh kelompok/gang . Bukan saja melukai materi atau fisik anak, tapi mental korban.

Agama tak perlu mengurusi negara. Negara pun tak boleh ikut mencampuri urusan agama. Begitu kira-kira jargon kaum sekular terkait hubungan agama dan negara.

Namun, bukan sekular namanya kalau tak pandai bersilat lidah dan melanggar prinsipnya sendiri. Pasalnya, manfaat-madarat atau untung-rugi tetaplah tolok-ukurnya. Karena itu prinsip di atas tak harus diterapkan secara rigid. Negara bisa saja mengurusi agama jika di sana ada keuntungan bagi negara. Zakat, misalnya, diurusi negara. Bahkan negara pun berkepentingan membuat UU Zakat. Itu karena zakat berkaitan dengan potensi uang puluhan triliun warga negaranya yang Muslim. Negara perlu mendukung program ini karena bisa membantu mengentaskan kemiskinan sebagian besar warganya yang tak pernah sukses diatasi negara. Dukungan negara terhadap program zakat juga tentu bermanfaat untuk sedikit mengalihkan perhatian masyarakat dari kemiskinan struktural yang diciptakan oleh negara.

Tidak ada yang salah dan dosa dengan rasa cinta, hanya syariat yang harus jadi penjaganya. Tak mengapa merasakan getaran cinta kepada si dia, tapi kita juga harus siap resikonya. Tak sedikit yang rasakan setrumnya, tapi tak tahan dengan godaannya, mabuk cinta jadinya. Akhirnya menomorsatukan cinta, mendewakan rasa, fokus pada si dia, lupa dirinya seorang hamba

Andai itu anak perempuan saya, saya tak tahu harus berkata apa. Kemungkinan besar air mata saya sudah menetes. Ternyata bukan cuma saya, tapi banyak orang tua berperasaan sama. Syok menyaksikan video kekerasan yang dilakukan anak-anak SD di Bukit Tinggi, Sumatera Selatan.
Anak perempuan itu hanya bisa berdiri ketakutan di pojok ruang kelas, lalu satu persatu kawan-kawannya melayangkan tendangan, pukulan, jitakan dan bogem ke tangan, badan dan kepalanya. Ia sudah menjerit dan menangis, tapi kawan-kawannya dengan riang dan bersemangat terus mem-bully-nya. “Taruah, taruah – terus, terus!” teriak sebagian yang lain memberi semangat.

Ilmu adalah harta yang amat berharga, bahkan lebih berharga daripada kekayaan berupa materi. Paling tidak, begitulah di mata Qadhi Jalaluddin al-Qifthi. Beliau adalah ulama Halab yang memiliki perhatian besar terhadap kitab para ulama. Beliau gemar mengumpulkan kitab para ulama, terutama yang ditulis langsung oleh penulisnya. Tak aneh jika beliau pun menjadi rujukan para ulama pada zamannya.

Menangis itu bahasa universal, salah satu bentuk pengungkapan perasaan. Sebagai anak manusia, kita juga punya yang namanya taqhatul hayawiyah (potensi kehidupan) yang didalamnya tercantum gharizah (naluri). Pada saat merasakan kesedihan karena misalnya ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya, maka menangis adalah bentuk pengungkapannya.