Jangan Menyerah Ada Hikmah di Balik Musibah

ISBN:978-979-1303-65-1
Penulis:Ibnul Qayyim al-Jauziyyah
Cover:Soft Cover
Isi:-
Ukuran: 12,5 x 17,5cm
Tahun Terbit: -
Penerbit: Qisthi Press
Kategori: Motivasi

Stock Buku: In Stock
Rp. 20,000

Adakah manusia yang tidak pernah mendapatkan musibah? Tentu tak ada. Musibah adalah segala sesuatu yang tak diinginkan yang menimpa seseorang, apa pun bentuknya, sebagai sunnatullah yang berlaku atas hamba-hamba-Nya. Musibah tidak hanya menimpa orang-orang yang jauh dari nilai-nilai agama saja, namun juga orang-orang mukmin dan bertakwa. Bahkan, semakin tinggi kedudukan seorang hamba di sisi Allah, semakin berat ujian dan cobaan yang diberikan Allah kepadanya. Karena Dia akan menguji keimanan dan ketabahan hamba yang dicintai-Nya.

Seberat apa pun musibah yang dialami seorang Mukmin, tidak lepas dari ujian Allah untuk menguji seteguh apakah keimanan yang ia miliki. Apakah imannya akan rapuh dengan satu ujian saja, ataukah akan semakin kuat? Allah s.w.t. berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut: 2).

Dengan demikian, tak ada musibah yang diturunkan Allah dengan sia-sia. Sebab, Allah s.w.t. Mahaadil dengan menyiapkan hikmah di baliknya. Tahukah kita, bahwa musibah diturunkan Allah untuk menyucikan jiwa manusia dari dosa dan maksiat? Tidakkah kita menyadari, bahwa Allah menghendaki kebaikan untuk hamba-Nya yang ditimpa musibah? Selain itu, musibah juga merupakan pelajaran bagi manusia agar dapat berempati terhadap sesama dan selalu mensyukuri nikmat Allah.

Masih banyak lagi hikmah di balik musibah yang dipaparkan oleh buku ini. Karya ini tak hanya mengantarkan kita untuk dapat bersikap ridha terhadap setiap musibah yang kita hadapi, namun juga sekaligus mempertebal keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah s.w.t.

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah (691 H/1292 M – 751 H/1349 M)

Cendekiawan Muslim ini lahir di Damaskus pada tahun 691 H. Terkenal sebagai seorang reformis pemikiran Islam. Murid utama Ibnu Taimiyah ini menguasai beragam bidang ilmu, mulai dari fikih, tafsir, hadis, akhlak, hingga filsafat, kimia, dan astronomi.

Sebagian besar karyanya berbicara tentang akhlak, moral, dan penyucian jiwa. Karena itulah, ulama ini sering disebut sebagai "spesialis penyakit hati (the scholar of the heart)." Meski oleh sebagian kalangan ia dipandang menentang tasawuf, namun kritiknya itu semata ditujukan kepada ajaran dan praktik tasawuf yang menyimpang dari ajaran al-Qur`an dan sunnah Nabi.

Wafat pada tahun 751 H di Damaskus, dan meninggalkan banyak warisan intelektual berupa buku dan tulisan yang hingga saat ini ikut mewarnai arus pemikiran keagamaan di dunia Islam.

 

Write a review

Note: HTML is not translated!
Bad           Good