Ilmu dan Akhlak

Ilmu adalah harta yang amat berharga, bahkan lebih berharga daripada kekayaan berupa materi. Paling tidak, begitulah di mata Qadhi Jalaluddin al-Qifthi. Beliau adalah ulama Halab yang memiliki perhatian besar terhadap kitab para ulama. Beliau gemar mengumpulkan kitab para ulama, terutama yang ditulis langsung oleh penulisnya. Tak aneh jika beliau pun menjadi rujukan para ulama pada zamannya.

Ilmu adalah harta yang amat berharga, bahkan lebih berharga daripada kekayaan berupa materi. Paling tidak, begitulah di mata Qadhi Jalaluddin al-Qifthi. Beliau adalah ulama Halab yang memiliki perhatian besar terhadap kitab para ulama. Beliau gemar mengumpulkan kitab para ulama, terutama yang ditulis langsung oleh penulisnya. Tak aneh jika beliau pun menjadi rujukan para ulama pada zamannya.

Suatu saat Qadhi Jalaluddin memperoleh kitab Al-Ansab yang ditulis tangan oleh penulisnya sendiri, yakni Imam as-Sam’ani. Hanya saja, kitab yang diperoleh kurang satu jilid. Qadhi Jalaluddin terus berusaha mencari naskah yang satu jilid itu, namun gagal.

Setelah beberapa hari Qadhi Jalaluddin mulai berputus-asa. Namun, tak lama ada beberapa sahabat beliau menemukan lembaran kertas di pasar peci Kota Halab yang sama dengan naskah yang dimiliki Qadhi Jalaluddin. Mereka menyampaikan informasi itu kepada Qadhi Jalaluddin. Qadhi Jalaluddin pun mendatangi pasar itu. Ia menemui pembuat peci untuk bertanya mengenai kertas-kertas itu, yang ternyata merupakan bagian dari kitab as-Sam’ani yang ia cari-cari itu. Pembuat peci itu berkata, “Saya membeli ini bersama kertas-kertas lainnya, lalu saya jadikan lapisan peci.”

Mendengar jawaban pembuat peci itu, Qadhi Jalaluddin merasa sangat bersedih (I’lam an-Nubala, IV/426).

Karena amat berharga, generasi Muslim pada masa lalu selalu memiliki hasrat yang tinggi untuk menguasai ilmu. Untuk itu, mereka senantiasa berupaya sungguh-sungguh dalam belajar. Terkait kesungguhan dalam belajar ini, Ja’far al-Maraghi mengisahkan: Aku memasuki pemakaman di Tustar, lalu aku mendengar ada teriakan, “Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah; Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah,” terus diulang-ulang dalam waktu yang lama. Aku mencari tahu dari mana asal suara itu. Akhirnya, aku melihat Ibnu Zuhair sedang belajar sendiri menghapal hadis Al-A’masy.” (Al-Jami’ al-Akhlaq ar-Rawi, hlm. 407).

Kesungguhan dalam belajar juga ditunjukkan oleh Imam Abu Ishaq asy-Syiraji. Beliau adalah salah seorang ulama mazhab asy-Syafii yang terkenal dengan hapalannya yang kuat. Hal itu tidak mengherankan karena mujahadah Imam asy-Syirazi dalam belajar pun amat kuat. Mengenai mujahadah beliau dalam belajar, beliau pernah bertutur, “Aku biasa mengulangi setiap masalah qiyas sebanyak seribu kali. Jika aku selesai, aku menghapal qiyas yang lainnya. Demikianlah, aku mengulangi setiap palajaran seribu kali!” (Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra, IV/218).

*****

Selain membuat seseorang menjadi faqih, ilmu sejatinya melahirkan akhlak mulia. Para ulama terdahulu benar-benar telah membuktikan keduanya: faqih sekaligus berakhlak mulia.

Contohnya adalah Imam Abu Hanifah. Beliau memiliki murid bernama Imam Abu Yusuf. Suatu saat Imam Abu Yusuf menghadiri majelis ilmu Imam Abu Hanifah. Namun, ayahnya melarang, “Engkau tidak usah pergi kepada Abu Hanifah. Ia bukan orang kaya, sedangkan engkau membutuhkan bekal harta.”

Sejak itu Imam Abu Yusuf mulai jarang menghadiri majelis Imam Abu Hanifah. Imam Abu Hanifah pun merasa kehilangan. Suatu saat beliau bertanya mengenai seringnya Imam Abu Yusuf tidak hadir di majelis beliau. Imam Abu Yusuf menjawab, “Saya sibuk bekerja dan menaati apa yang dikatakan ayah saya.”

Mendengar itu Imam Abu Hanifah segera memberi Imam Abu Yusuf uang 100 dirham (kira-kira Rp 7 juta) seraya berkata, “Gunakan ini dan tetaplah mengikuti halaqah. Jika telah habis, sampaikan saja kepadaku.”

Akhirnya, Imam Abu Yusuf aktif kembali dalam halaqah. Imam Abu Hanifah pun terus memberi Imam Abu Yusuf uang dan tidak pernah terlambat. Hal itu terus berlangsung selama 29 tahun sampai Imam Abu Yusuf memperoleh banyak ilmu dan harta dari Imam Abu Hanifah (Muwaffaq al-Khawarizmi, Manaqib Abi Hanifah, 1/469).

Akhlak mulia juga ditunjukkan oleh Imam Abdurrahman. Salah seorang ulama mazhab Syafii ini terkenal dengan sifat wara’-nya. Khurrah binti Abdurrahman as-Sinjawi, istrinya, menyampaikan, bahwa suaminya pernah tidak makan nasi sekian lama. Pasalnya, penanaman padi membutuhkan banyak air. Saat itu, di wilayah tempat tinggalnya, yakni Marwa, air tidak banyak sehingga menjadi bahan rebutan. Akibatnya, banyak petani yang melakukan kezaliman terhadap petani lainnya demi memperoleh air untuk mengairi lahannya. Inilah yang menjadi alasan mengapa Imam Abdurrahman tidak makan nasi sekian lama (Lihat: Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra, V/102).

Akhlak mulia juga ditunjukkan oleh Syaikh ad-Damiri ad-Darini, juga salah seorang ulama besar mazhab Syafii. Suatu saat ulama yang hidup pada abad ke-8 Hijrah ini melakukan perjalanan di wilayah Mesir dengan mengenakan sorban yang telah usang yang telah berubah warnanya hingga terlihat kebiru-biruan, seperti warna sorban yang dipakai oleh para pendeta Qibthi (Kristen Koptik). Karena itulah ada seorang yang tertarik mendekati beliau untuk mendakwahi beliau. Ia menyuruh Syaikh ad-Damiri masuk Islam dan bersyahadat, “Katakanlah aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad Rasulullah.”

Tanpa sedikitpun tersinggung, apalagi marah, beliau segera mengucapkan kalimat syahadat. Kemudian orang itu berkata, “Pergilah kepada Qadhi untuk bersyahadat di hadapan beliau.”

Syaikh ad-Damiri pun pergi dengan diarak oleh banyak anak kecil di belakang beliau, sebagaimana yang biasa terjadi pada orang yang hendak masuk Islam.

Setelah Syaikh ad-Damiri sampai ke tempat Qadhi, sang Qadhi yang cukup mengenal Syaikh ad-Damiri pun terheran-heran, “Ada apa ini, wahai Syaikh?”

Syaikh ad-Darimi menjawab, “Dia menyuruh aku untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Aku pun mengucapkannya. Lalu dia menyuruh aku pergi menghadap Anda untuk mengucapkan kalimat syahadat di hadapan Anda. Karena itu aku pun datang kepada Anda.” (Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra, VIII/200).

Akhlak mulia pun ditunjukkan oleh Imam Asy-Sya’bi. Suatu saat beliau dicela oleh seseorang. Namun, beliau tidak risau apalagi marah. Beliau hanya menanggapi si pencela dengan berkata, “Jika aku seperti yang engkau katakan, semoga Allah mengampuni aku. Namun, jika aku tidak seperti yang engkau katakan, semoga Allah mengampuni engkau.” (Imam al-Mawardi, Adab ad-Dunya’ wa ad-Din, hlm. 216).

Wa ma tawfiqi illa bilLah.[Arief B. Iskandar]

‘ISLAM KAPITALIS’

Agama tak perlu mengurusi negara. Negara pun tak boleh ikut mencampuri urusan agama. Begitu kira-kira jargon kaum sekular terkait hubungan agama dan negara.

Namun, bukan sekular namanya kalau tak pandai bersilat lidah dan melanggar prinsipnya sendiri. Pasalnya, manfaat-madarat atau untung-rugi tetaplah tolok-ukurnya. Karena itu prinsip di atas tak harus diterapkan secara rigid. Negara bisa saja mengurusi agama jika di sana ada keuntungan bagi negara. Zakat, misalnya, diurusi negara. Bahkan negara pun berkepentingan membuat UU Zakat. Itu karena zakat berkaitan dengan potensi uang puluhan triliun warga negaranya yang Muslim. Negara perlu mendukung program ini karena bisa membantu mengentaskan kemiskinan sebagian besar warganya yang tak pernah sukses diatasi negara. Dukungan negara terhadap program zakat juga tentu bermanfaat untuk sedikit mengalihkan perhatian masyarakat dari kemiskinan struktural yang diciptakan oleh negara.

Agama tak perlu mengurusi negara. Negara pun tak boleh ikut mencampuri urusan agama. Begitu kira-kira jargon kaum sekular terkait hubungan agama dan negara.

Namun, bukan sekular namanya kalau tak pandai bersilat lidah dan melanggar prinsipnya sendiri. Pasalnya, manfaat-madarat atau untung-rugi tetaplah tolok-ukurnya. Karena itu prinsip di atas tak harus diterapkan secara rigid. Negara bisa saja mengurusi agama jika di sana ada keuntungan bagi negara. Zakat, misalnya, diurusi negara. Bahkan negara pun berkepentingan membuat UU Zakat. Itu karena zakat berkaitan dengan potensi uang puluhan triliun warga negaranya yang Muslim. Negara perlu mendukung program ini karena bisa membantu mengentaskan kemiskinan sebagian besar warganya yang tak pernah sukses diatasi negara. Dukungan negara terhadap program zakat juga tentu bermanfaat untuk sedikit mengalihkan perhatian masyarakat dari kemiskinan struktural yang diciptakan oleh negara.

Demikian pula haji. Haji pun diurus negara. Jelas karena di sana ada potensi uang umat yang juga puluhan triliun setiap tahunnya, yang sebagiannya masuk ke kas negara. Negara perlu menerbitkan UU Perbankan Syariah karena memang berkaitan dengan potensi uang umat yang juga berlimpah. Belakangan negara pun berhasrat mengurusi sertifikasi halal, juga karena di situ ada potensi pendapatan ratusan miliaran rupiah yang tentu menguntungan negara.

Bagaimana dengan masalah warga negaranya yang Muslim yang tidak shalat? Bagaimana dengan urusan warga negaranya yang Muslimah yang ingin memakai jilbab? Bagaimana dengan urusan warga negaranya yang menolak tempat-tempat hiburan malam dan pelacuran  yang memang bertentangan dengan ajaran agama mereka? Bagaimana dengan masalah pemurtadan (kristenisasi), Ahmadiyah dan aliran sesat lainnya? Bagaimana pula dengan keinginan mayoritas Muslim untuk menerapkan syariah Islam secara formal oleh negara?

Nah, di situ baru negara harus diam; tak boleh mencampuri urusan agama warganya. Alasannya jelas, tak ada hal yang menguntungkan jika negara memaksa orang yang tak shalat agar mereka shalat; tak juga menguntungkan jika negara melegalkan jilbab bagi kaum Muslimah yang sangat ingin berjilbab. Bahkan jika tempat-tempat hiburan dan pelacuran (lokalisasi) dihapuskan oleh negara, itu bisa mengurangi potensi pendapatan negara—melalui pajak dari tempat-tempat tersebut—yang berarti merugikan negara. Tak ada untungnya bagi negara mengurusi masalah kristenisasi, Ahmadiyah atau ragam aliran sesat lainnya yang merusak akidah umat Islam. Tak ada untungnya pula negara meluluskan keinginan warga negaranya yang Muslim untuk memformalisasikan syariah melalui institusi negara. Dalam semua itu, prinsip “negara tak boleh mencampuri urusan agama” harus benar-benar ditegakkan.

*****

Demikian pula sebaliknya. Agama tak perlu mencampuri urusan negara. Bahkan agama tak boleh dibawa-bawa ke ranah politik. “Politik jangan bawa-bawa agama.” Begitu kira-kira.

Namun, prinsip ini pun tak mutlak. Itu hanya berlaku jika agama tak memberikan keuntungan atau tidak menghasilkan manfaat secara politik.  Menjelang Pemilu, sah-sah saja orang membawa-bawa agama. Ayat-ayat al-Quran boleh dikutip sebagai “bumbu” saat kampanye. Baju koko, kopiah, kerudung dan jilbab pun sah-sah saja dikenakan oleh para calon wakil rakyat dalam kampanye mereka untuk pencitraan atau menciptakan kesan islami.

Negara pun boleh membawa-bawa agama saat dibutuhkan. Dengan menggunakan lisan ulama, negara sah-sah saja mengharamkan golput dan mewajibkan warga negara menggunakan hak pilihnya. Dengan meminjam fatwa ulama, negara menguatkan kebijakannya untuk menerima tamu penguasa negara kafir penjajah, seperti Presiden AS Obama. Ditegaskanlah bahwa menerima dan menghormati tamu adalah bagian dari kewajiban dalam Islam. Padahal sang tamu yang kafir dan penjajah itu telah menumpahkan darah umat Islam di mana-mana, merampas kekayaan umat di berbagai negeri Muslim serta membiarkan penindasan umat Islam di negeri-negeri yang mayoritas penduduknya kafir. Dengan menggunakan lisan ulama pula, ditegaskan kewajiban warga negara untuk selalu taat kepada ulil amri (pemerintah). Padahal negara sendiri tidak tunduk dan taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya karena menolak penerapan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan warganya.

Kita tentu khawatir jika sikap negara yang sekular dan sangat kapitalistik ini menular kepada para ulamanya. Kita tentu tidak ingin ulama—khususnya yang terhimpun dalam MUI—amat fokus mengurusi sertifikasi halal, tetapi tidak terlalu fokus untuk terus menekan negara agar melegalkan Polwan (juga para wanita Muslimah di institusi negara maupun yang lain) untuk berjilbab. Kita tentu tak ingin ulama dan MUI hanya sibuk mendorong umat agar rajin membayar zakat tetapi tidak sibuk mendesak negara untuk meninggalkan utang luar negeri ribawi, merebut kembali kekayaan umat yang terlanjur diserahkan kepada perusahaan-perusahaan asing, dlsb. Kita tentu tak ingin ulama dan MUI amat keras memfatwakan keharaman golput dalam Pemilu daripada secara tegas memfatwakan kembali keharaman sekularisme (yang melahirkan sistem demokrasi yang bobrok dan busuk serta sistem kapitalisme yang jahat dan merusak), pluralisme dan liberalisme. Kita pun tak ingin ulama dan MUI begitu ‘gagah’ memfatwakan agar warga negara harus taat kepada ulil amri, tetapi ‘loyo’ dan tak punya nyali untuk memfatwakan bahwa negara wajib taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam intitusi negara sekaligus mencampakkan sekularisme.

Adanya oknum ulama/kiai petinggi MUI di salah satu daerah yang diduga terlibat dalam perzinaan dengan dua wanita—sekaligus terlibat dalam pembuatan video perzinaannya—sudah seharusnya menjadi pelajaran amat berharga, bahwa siapapun (termasuk ulama, kiai, da’i, ustadz) bisa tergilas oleh keganasan mesin sekularisme dengan seluruh sistemnya (demokrasi, kapitalisme, liberalisme, pluralisme, dll)yang rusak dan merusak.

Haruskah kita menunggu korban lebih banyak lagi? Tak cukupkah kerusakan di semua lini kehidupan akibat sistem sekular inimendorong kita untuk memaksa negara mencampakkan sekularisme dan menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam institusi Khilafah?Ataukah kitatetap hanya akan mempraktikkan Islam ritual bercampur aroma sekularisme dan kapitalisme yang amat menjijikkan?Silakan saja jikaAnda kuat menghadapi azab Allah di akhirat nanti!

Wa ma tawfiqi illa bilLah.[Arief B. Iskandar]

MAULID NABI SAW: SIMBOL KELAHIRAN MASYARAKAT BARU

Tak terasa, kita kembali ada di bulan Rabiul Awwal, yang diyakini oleh kaum Muslim sebagai bulan kelahiran Baginda Rasulullah saw. Seperti biasa, Peringatan Hari Kelahiran Baginda Rasulullah saw. Muhammad—atau dikenal dengan Peringatan Maulid Nabi saw.—ramai diselenggarakan oleh kaum Muslim di berbagai tempat, khususnya di Tanah Air.

Namun demikian, tanpa mengurangi sikap pengagungan kita terhadap Baginda Rasulullah saw., kelahiran seorang manusia—termasuk beliau—sebetulnya merupakan perkara yang biasa saja. Bagaimana tidak? Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap menit dunia ini tidak henti-hentinya menyambut kelahiran bayi-bayi manusia yang baru. Karena perkara yang biasa-biasa saja, tidak terasa bahwa dunia ini telah dihuni lebih dari 6 miliar jiwa.

Karena itulah, barangkali, Nabi kita, Rasulullah Muhammad saw. tidak menjadikan hari kelahirannya sebagai hari yang istimewa, atau sebagai hari yang setiap tahunnya harus diperingati. Keluarga beliau, baik pada masa Jahiliah maupun pada masa Islam, juga tidak pernah memperingatinya. Padahal beliau adalah orang yang sangat dicintai oleh keluarganya. Mengapa? Sebab, dalam tradisi masyarakat Arab, baik pada zaman Jahiliah maupun zaman Islam, peringatan atas hari kelahiran seseorang tidaklah dikenal.

Bagaimana dengan para Sahabat beliau? Kita tahu, tidak ada seorang pun yang cintanya kepada Nabi Muhammad saw. melebihi kecintaan para Sahabat kepada beliau. Dengan kata lain, di dunia ini, para Sahabatlah yang paling mencintai Nabi Muhammad saw.

Namun demikian, peringatan atas kelahiran (maulid) Nabi Muhammad saw. juga tidak pernah dilakukan para Sahabat beliau itu; meskipun dengan alasan untuk mengagungkan beliau. Wajar jika dalam Sirah Nabi saw. dan dalam sejarah otentik para sahabat beliau, sangat sulit ditemukan fragmen Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw., baik yang dilakukan oleh Nabi saw. sendiri maupun oleh para Sahabat beliau.

Bahkan ketika Khalifah Umar bin al-Khaththab bermusyawarah mengenai sesuai yang sangat penting dengan para sahabat, yakni mengenai perlunya penanggalan Islam, mereka hanya mengemukakan dua pilihan, yakni memulai tahun Islam dari sejak diutusnya Muhammad sebagai rasul atau sejak beliau hijrah ke Madinah. Akhirnya, pilihan Khalifah Umar—yang disepakati para sahabat—jatuh pada yang terakhir. Khalifah Umar beralasan, Hijrah adalah pembeda antara yang haq dan yang batil. (Ath-Thabari, Târîkh ath-Thabari, 2/3). Saat itu tidak ada seorang sahabat pun yang mengusulkan tahun Islam dimulai sejak lahirnya Nabi Muhammad saw.

Demikian pula ketika mereka bermusyawarah tentang dari bulan apa tahun Hijrah dimulai; mereka pun hanya mengajukan dua alternatif, yakni bulan Ramadhan dan bulan Muharram. Pilihan akhirnya jatuh pada yang terakhir, karena bulan Muharram adalah bulan ketika orang-orang kembali dari menunaikan ibadah haji, dan Muharram adalah salah satu bulan suci. (Ath-Thabari, ibid.). Saat itu pun tidak ada yang mengusulkan bulan Rabiul Awwal, bulan lahirnya Rasulullah saw., sebagai awal bulan tahun Hijrah.

Realitas tersebut, paling tidak, menunjukkan bahwa para sahabat sendiri tidak terlalu ‘memandang penting’ momentum hari dan tahun kelahiran Nabi Muhammad saw., sebagaimana orang-orang Kristen memandang penting hari dan tahun kelahiran Isa al-Masih, yang kemudian mereka peringati sebagai Hari Natal.

Itu membuktikan bahwa para sahabat bukanlah orang-orang yang biasa mengkultuskan Nabi Muhammad saw., sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa as. Hal itu karena mereka tentu sangat memahami benar sabda Nabi Muhammad saw. sendiri yang pernah menyatakan:

لاَ تُطْرُوُنِى كمَا أَطْرَتِ النَصَارَى إِبْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ

Janganlah kalian mengkultuskan aku sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan putra Maryam (Isa as.), karena sesungguhnya aku hanya sekadar seorang hamba-Nya. (HR al-Bukhari dan Ahmad).

Memang, sebagaimana manusia lainnya, secara fisik atau lahiriah, tidak ada yang istimewa pada diri Muhammad saw. sebagai manusia, selain beliau adalah seorang Arab dari keturunan yang dimuliakan di tengah-tengah kaumnya. Wajarlah jika Allah Swt., melalui lisan beliau sendiri, berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ…

Katakanlah, “Sungguh, aku ini manusia biasa seperti kalian…” (QS Fushshilat [41]: 6).

Lalu mengapa setiap tahun kaum Muslim saat ini begitu antusias memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.; sesuatu yang bahkan tidak dilakukan oleh Nabi saw. sendiri dan para sahabat beliau?

Berbagai jawaban atau alasan dari mereka yang memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. biasanya bermuara pada kesimpulan, bahwa Muhammad saw. memang manusia biasa, tetapi beliau adalah manusia teragung, karena beliau adalah nabi dan rasul yang telah diberi wahyu; beliau adalah pembawa risalah sekaligus penebar rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, kelahirannya sangat layak diperingati.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. sendiri tidak lain merupakan sebuah sikap pengagungan dan penghormatan (ta‘zhîman wa takrîman) terhadap beliau dalam kapasitasnya sebagai nabi dan rasul; sebagai pembawa risalah sekaligus penebar rahmat bagi seluruh alam.

Walhasil, jika memang demikian kenyataannya, kita dapat memahami makna Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. yang diselenggarakan setiap tahun oleh sebagian kaum Muslim saat ini, yakni sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan beliau dalam kapasitasnya sebagai nabi dan rasul Allah.

Itulah yang menjadikan beliau sangat istimewa dibandingkan dengan manusia yang lain. Keistimewaan beliau tidak lain karena beliau diberi wahyu oleh Allah Swt., yang tidak diberikan kepada kebanyakan manusia lainnya. Allah Swt. berfirman (masih dalam surah dan ayat yang sama):

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ

Katakanlah, “Sungguh, aku ini manusia biasa seperti kalian. (Hanya saja) aku telah diberi wahyu, bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, tetaplah kalian istiqamah pada jalan yang menuju kepada-Nya. (QS Fushshilat [41]: 6).

Makna Kelahiran Muhammad saw.
Kelahiran Muhammad saw. tentu tidaklah bermakna apa-apa seandainya beliau tidak diangkat sebagai nabi dan rasul Allah, yang bertugas untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada umat manusia agar mereka mau diatur dengan aturan apa saja yang telah diwahyukan-Nya kepada Nabi-Nya itu.

Karena itu, Peringatan Maulid Nabi saw. pun tidak akan bermakna apa-apa—selain sebagai aktivitas ritual dan rutinitas belaka—jika kaum Muslim tidak mau diatur oleh wahyu Allah, yakni al-Quran dan as-Sunnah, yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad saw. ke tengah-tengah mereka. Padahal, Allah Swt. telah berfirman:

وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Apa saja yang diberikan Rasul kepada kalian, terimalah; apa saja yang dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah. (QS al-Hasyr [59]: 7).

Lebih dari itu, pengagungan dan penghormatan kepada Rasulullah Muhammad saw., yang antara lain diekspresikan dengan Peringatan Maulid Nabi saw., sejatinya merupakan perwujudan kecintaan kepada Allah, karena Muhammad saw. adalah kekasih-Nya.

Jika memang demikian kenyataannya maka kaum Muslim wajib mengikuti sekaligus meneladani Nabi Muhammad saw. dalam seluruh aspek kehidupannya, bukan sekadar dalam aspek ibadah ritual dan akhlaknya saja. Allah Swt. berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي

Katakanlah, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku.” (QS Ali Imran [3]: 31).

Dalam ayat di atas, frasa fattabi‘ûnî (ikutilah aku) bermakna umum, karena memang tidak ada indikasi adanya pengkhususan (takhshîsh), pembatasan (taqyîd), atau penekanan (tahsyîr) hanya pada aspek-aspek tertentu yang dipraktikkan Nabi saw.
Di samping itu, Allah Swt. juga berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Sesungguhnya engkau berada di atas khuluq yang agung. (QS al-Qalam [68]: 4).

Di dalam tafsirnya, Imam Jalalin menyatakan bahwa kata khuluq dalam ayat di atas bermakna dîn (agama, jalan hidup) (Lihat: Jalalain, Tafsîr Jalâlayn, 1/758). Dengan demikian, ayat di atas bisa dimaknai: Sesungguhnya engkau berada di atas agama/jalan hidup yang agung.

Tegasnya, menurut Imam Ibn Katsir, dengan mengutip pendapat Ibn Abbas, ayat itu bermakna: Sesungguhnya engkau berada di atas agama/jalan hidup yang agung, yakni Islam (Lihat: Ibn Katsir, Tafsîr Ibn Katsîr, 4/403). Ibn Katsir lalu mengaitkan ayat ini dengan sebuah hadis yang meriwayatkan bahwa Aisyah istri Nabi saw. pernah ditanya oleh Sa’ad bin Hisyam mengenai akhlak Nabi saw. Aisyah lalu menjawab:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

Sesungguhnya akhlaknya adalah al-Quran. (HR Ahmad).

Dengan demikian, berdasarkan ayat al-Quran dan hadis penuturan Aisyah di atas, dapat disimpulkan bahwa meneladani Nabi Muhammad saw. hakikatnya adalah dengan cara mengamalkan seluruh isi al-Quran, yang tidak hanya menyangkut ibadah ritual dan akhlak saja, tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.

Artinya, kaum Muslim dituntut untuk mengikuti dan meneladani Nabi Muhammad saw. dalam seluruh perilakunya: mulai dari akidah dan ibadahnya; makanan/minuman, pakaian, dan akhlaknya; hingga berbagai muamalah yang dilakukannya seperti dalam bidang ekonomi, sosial, politik, pendidikan, hukum, dan pemerintahan.

Sebab, Rasulullah saw. sendiri tidak hanya mengajari kita bagaimana mengucapkan syahadat serta melaksanakan shalat, shaum, zakat, dan haji secara benar; tetapi juga mengajarkan bagaimana mencari nafkah, melakukan transaksi ekonomi, menjalani kehidupan sosial, menjalankan pendidikan, melaksanakan aktivitas politik (pengaturan masyarakat), menerapkan sanksi-sanksi hukum (‘uqûbat) bagi pelaku kriminal, dan mengatur pemerintahan/negara secara benar. Lalu, apakah memang Rasulullah saw. hanya layak diikuti dan diteladani dalam masalah ibadah ritual dan akhlaknya saja, tidak dalam perkara-perkara lainnya? Tentu saja tidak!

Jika demikian, mengapa saat ini kita tidak mau meninggalkan riba dan transaksi-transaksi batil yang dibuat oleh sistem Kapitalisme sekular; tidak mau mengatur urusan sosial dengan aturan Islam; tidak mau menjalankan pendidikan dan politik Islam; tidak mau menerapkan sanksi-sanksi hukum Islam (sepertiqishâsh, potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina, cambuk bagi pemabuk, hukuman mati bagi yang murtad, dll); juga tidak mau mengatur pemerintahan/negara dengan aturan-aturan Islam? Bukankah semua itu justru pernah dipraktikan oleh Rasulullah saw. selama bertahun-tahun di Madinah dalam kedudukannya sebagai kepala Negara Islam (Daulah Islamiyah)?

Kelahiran Nabi saw.: Kelahiran Masyarakat Baru
Sebagaimana diketahui, masa sebelum Islam adalah masa kegelapan, dan masyarakat sebelum Islam adalah masyarakat Jahiliah. Akan tetapi, sejak kelahiran (maulid) Muhammad saw. di tengah-tengah mereka, yang kemudian diangkat oleh Allah sebagai nabi dan rasul pembawa risalah Islam ke tengah-tengah mereka, dalam waktu hanya 23 tahun, masa kegelapan mereka berakhir digantikan dengan masa ‘cahaya’; masyarakat Jahiliah terkubur digantikan dengan lahirnya masyarakat baru, yakni masyarakat Islam. Sejak itu, Nabi Muhammad saw. adalah pemimpin di segala bidang. Ia memimpin umat di masjid, di pemerintahan, bahkan di medan pertempuran.

Karena itu, kita bisa menyimpulkan bahwa makna terpenting dari kelahiran Nabi Muhammad saw. adalah keberadaannya yang telah mampu membidani kelahiran masyarakat baru, yakni masyarakat Islam; sebuah masyarakat yang tatanan kehidupannya diatur seluruhnya oleh aturan-aturan Islam.

Renungan
Walhasil, Peringatan Maulid Nabi saw. sejatinya dijadikan momentum bagi kaum Muslim untuk terus berusaha melahirkan kembali masyarakat baru, yakni masyarakat Islam, sebagaimana yang pernah dibidani kelahirannya oleh Rasulullah saw. di Madinah. Sebab, siapapun tahu, masyarakat sekarang tidak ada bedanya dengan masyarakat Arab pra-Islam, yakni sama-sama Jahiliah. Sebagaimana masa Jahiliah dulu, saat ini pun aturan-aturan Islam tidak diterapkan.

Karena aturan-aturan Islam—sebagaimana aturan-aturan lain—tidak mungkin tegak tanpa adanya negara, maka menegakkan negara yang akan memberlakukan aturan-aturan Islam adalah keniscayaan. Inilah juga yang disadari benar oleh Rasulullah saw. sejak awal dakwahnya. Rasulullah saw. tidak hanya menyeru manusia agar beribadah secara ritual kepada Allah dan berakhlak baik, tetapi juga menyeru mereka seluruhnya agar menerapkan semua aturan-aturan Allah dalam seluruh aspek kehidupan mereka.

Sejak awal, bahkan para pemuka bangsa Arab saat itu menyadari, bahwa secara politik dakwah Rasulullah saw. akan mengancam kedudukan dan kekuasaan mereka. Itulah yang menjadi alasan orang-orang seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Walid bin Mughirah, dan para pemuka bangsa Arab lainnya sangat keras menentang dakwah Rasulullah saw. Akan tetapi, semua penentangan itu akhirnya dapat diatasi oleh Rasulullah saw. sampai beliau berhasil menegakkan kekuasaannya di Madinah sekaligus melibas kekuasaan mereka.

Walhasil, dakwah seperti itulah yang juga harus dilakukan oleh kaum Muslim saat ini, yakni dakwah untuk menegakkan kekuasaan Islam yang akan memberlakukan aturan-aturan Islam, sekaligus yang akan meruntuhkan kekuasaan rezim kafir yang telah memberlakukan aturan-aturan kufur selama ini. Hanya dengan itulah Peringatan Maulid Nabi saw. yang diselenggarakan setiap tahun akan jauh lebih bermakna.Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb. [] Arief B. Iskandar ,redaktur Al wa’ie